Kamis, 27 Agustus 2015

Sejarah Singkat Kesehatan Masyarakat di Indonesia



Sejarah perkembangan
kesehatan masyarakat
di Indonesia
dimulai sejak masa penjajahan Belanda
pada abad ke 16. Pada saat itu kesehatan masyarakat dimulai dengan upaya pemberantasan penyakit cacar dan
kolera yang menyebar di masyarakat.
Penyakit kolera mewabah di Indonesia sekitar tahun 1937, kemudia diikuti oleh wabah cacar pada tahun 1948
yang awalnya disinyalir datang dari negara Singapura. Atas kejadian tersebut pemerintah hindia Belanda mulai
melakukan upaya-upaya kesehatan masyarakat.
Sebelumnya tahun1807 melalui pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels juga sudah melakukan upaya
kesmas dengan langkah penurunan angka kematian bayi, yaitu dengan cara mendirikan pelatihan dukun bayi
sebagai penolong dan perawatan persalinan. Sampai akhirnya diberikan pelatihan khusus di sekolah dokter
Jawa yang didirikan oleh kepala pelayanan sipil dan militer dr.Bosch. Sekolah ini dikenal juga dengan nama
sekolah STOVIA (
School Tot Opleiding Van Indiche Arsten
).
Tahun 1888 didirikan Laboratorium kedokteran di Bandung dan tahun 1913 didirikan sekolah kedokteran yang
ke 2 di Surabaya dengan nama NIAS (
Nederland Indische Arsten School
). Sampai pada tahun 1927 Stovia
berubah menjadi Sekolah Kedokteran, sampai akhirnya sejak berdirinya Universitas Indonesia sekitar tahun
1947 dimasukan menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
STOVIA dan NIAS mempunyai andil sangat besar dalam perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia,
termasuk ketika mereka ikut menangani wabah penyakit pes di pulau Jawa dengan memberikan vaksinasi
kepada 15 juta penduduk pulau Jawa dan penyemprotan DTT di rumah-rumah mereka.
Memasuki era kemerdekaan, salah satu tonggak penting perkembangan kesmas di Indonesia adalah dengan
diperkenalkannya
Bandung Plan
tahun 1951 oleh dr.Y. Leimena dan dr.Patah. Konsep ini memperkenalkan
cara pemulihan sakit (kuratif) dan upaya pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat serta lembaga-
lembaga kesehatan yang sudah ada. Hasilnya, pada tahun 1956 dibentuk "Proyek Bekasi" di Lemah Abang
sebagai contoh atau model pelayanan, pelatihan serta pengelolaan program kesehatan masyarakat pedesaan di
Indonesia.
Sekitar bulan Nopember tahun 1967, para ahli kesehatan di seluruh Indonesia mengadakan seminar pertama
STOVIA (School Tot Opleiding Van Indiche Arsten)
yang membahas program kesehatan masyarakat terpadu. Hasilnya, konsep pusat kesehatan masyarakat yang
digagas oleh dr. Achmad Dipodilogo disepakati bersama sebagai upaya program kesehatan terpadu di seluruh
negeri, sampai akhirnya diresmikan oleh pemerintah menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat atau
Puskesmas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar